SELALU BERSAMA
WALAUPUN BERBEDA ALAM
Kriiing…!!! Bel tanda masuk pelajaran pertama terdengar nyaring ditelinga Nara Gadis berparas cantik yang menjadi bunga di salah satu SMP Negeri terpopuler di Bandung. Predikat sebagai siswi teladan telah didapatkan olehnya sejak dua tahun yang lalu, tepatnya ketika ia menduduki bangku kelas VII A.
Bel seolah – olah menyadarkan untuk menghentikan obrolannya dengan Adiknya yang juga satu sekolah dengannya yaitu Nilam. Sekilas mereka tampak mirip, karena kedua kakak beradik ini terpahut usia yang tidak begitu jauh. Dalam hal apapun mereka terlihat sangat kompak. Perawakan Nilam dapat dibilang berbeda dengan kakaknya, terutama fisik. Nilam tampak lebih lemah gemulai, sehat, dan selalu ceria. Sedang kakaknya lebih mudah lelah.
“Kak , udah masuk nih. Curhatnya nanti lagi ya kak…!!” kata Nilam sambil bergegas merapikan buku yang dibawanya.
“Iya dek, pulangnya tunggu kakak didepan gerbang ya…!!” jawab Nara berjalan dengan langkah yang agak cepat.
Jam pelajaran pertama, kedua, ketiga, dan keempat telah berlalu. Semua siswa berbondong – bondong keluar kelas, ada yang menuju kantin, kopsis, taman, hold, perpustakaan, atau bahkan ke kamar mandi. Jam istirahat seperti ini, biasanya Nara dan beberapa kawan karibnya pergi ke kantin untuk mengisi perut. Nara dan kawannya memilih untuk menduduki bangku favoritenya disebelah pojok kantin. Seperti biasa, mereka memesan semangkuk soto dan segelas teh. Hal itu mereka lakukan hampir setiap hari kecuali pada hari jum’at. Karena pada hari itu tidak ada jadwal ekstrakulikuler.
Obrolan demi obrolan mereka bicarakan. Namun disela itu juga Nara merasakan pusing tak karuhan, rasa mual diperutnya dicampur rasa perih di lubang hidungnya serta pandangannya menjadi kabur tak jelas. Tanpa berpikir panjang, Nara berlari sekuat tenaganya menyusuri lorong kelas menuju kamar mandi perempuan.
Tampak dari kejauhan Nilam meliahat kakaknya berlari dengan tertatih menuju kamar mandi. Dengan rasa khawatir, ia segera menyusul kakaknya.
“Kak Nara kenapa sih ? kaya ada yang kakak sembunyiin dariku” tanya Nilam dngan nafas terengah – engah.
“Gak ada apa – apa kok” Nara menjawabnya sambil menutupi ceceran darah di hidungnya dengan kepalan tangan mungil itu.
“Hidungmu kenapa kak ? buka kak ! Nilam penasaran…” tukasnya sambil berusaha memalingkan tangan Nilam. Setelah berhasil memaksakan untuk melihatnya ternyata Nara mimisan,
Kriiinggg…!! Istirahat berakhir.
“Kak ini ada tissu buat kakak , Nilam balik ke kelas dulu ya kak !! Nilam baru ingat kalo sehabis istirahat ada ulangan fisika” kata Nilam dengan cepat menyodorkan tissu dari sakunya dan berlari keluar kamar mandi meninggalkan kakaknya sendiri.
Berulang kali Nara membasuh hidung berceceran darah yang terlihat di cermin. Bahkan di westafel tempat ia membersihkan hidungnya, terlihat genangan air berwarna merah bekas darahnya. Dalam hati ia bertanya – tanya mengapa hal seperti ini terjadi padanya, padahal ia tidak pernah mengalami mimisan sebelumnya.
Tissu pemberian adiknya tersayang ia pakai untuk menghambat keluarnya darah dihidungnya. Teringat akan bel istirahat berakhir, ia pun segera berlari menuju kelasnya. Pandangan masih belum jelas, denyutan dikepalanya semakin menjadi – jadi.
“Ya Tuhan, jangan biarkan rasa sakit ini semakin menjadi – jadi padaku…” gumamnya dalam hati. Berharap Tuhan mengabulkan permohonananya.
Begitu banyak teman – teman Nara yang menanyakan keadaannya. Tak satupun dijawabnya, ia kini terduduk lemas di kursi tempat duduknya.
Detik, menit, dan jam telah Nara lalui dengan menahan rasa sakit dikepalanya. Jam dinding menunjukkan pukul dua siang, saatnya semua siswa berkemas.
“Kaaakk Aarrraaaaaa…!!” Nilam berteriak memanggil kakaknya di depan gerbang sekolah bersama supir pribadinya.
Tubuh Nara lemas, ia tak dapat membalas teriakan adiknya, bahkan ia berjalan tertatih, seolah tak kuat lagi menyangga beban tubuhnya. Untung saja Nilam segera menghampirinya dan menuntun Nara masuk ke dalam mobil.
“Kakak masih sakit ya? Nanti Nilam bilangin ke Mama sama Papa ya kak, Nilam gak mau kakak sakit” katanya khawatir.
Nara tak berbicara sedikit pun, ia hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya yang terbujur kakau di bantalan mobil mewahnya itu. Dalam hati kecilnya, ia ingin menjawab bahwa ia masih sakit, tetapi ia tidak mau jika sampai kedua orangtuanya tau, karena bagi Nara hal seperti itu hanya membuat Mama dan Papanya khawatir akan keadaannya, seperti adiknya itu.
Rumah mereka sepi, seperti biasa Mama dan Papanya sibuk dengan urusan pekerjaannya di kantor. Saat – saat seperti ini, mereka hanya ditemani dua orang pembantu.
Setengah jam lebih Nara beristirahat di atas kasur empuk dengan segarnya udara AC di kamarnya. Ia masih terbayang – bayang yang terjadi didirinya tadi, padahal sebelumnya ia tak pernah merasakan sakit kepala tak karuhan, mimisan bahkan muntah baru pertama kali ia rasakan kecuali saat naik bus. “Yaah, semoga saja hanya sekedar kecapekan…!!” gumamnya dalam hati.
“Dek, sepertinya kakak udah ngga sakit lagi deh” kata Nara sambil menutup pintu kamar adiknya.
“Serius kak ? Wah Nilam ikut seneng kak” sahutnya sambil memeluk erat tubuh kakanya itu.
“Non, makan dulu yuk ! Tuan sama Nyonya juga udah pulang..” kata salah seorang pembantunya dengan mengetuk pintu kamar Nilam yang serentak membuat kedua kakak beradik ini kaget dan melepaskan pelukan erat mereka.
Tampak sekali dari raut wajah mereka, terlihat sangat bahagia jika bertemu dengan Mama dan Papanya. Segeralah mereka bergegas keluar kamar dan turun menyusuri belasan tangga dari kayu jati yang sudah tua tetepi masih kokoh untuk dilewati berulang kali.
Meja makan sudah penuh makanan bergizi, yang dihidangkan untuk Nara, Nilam, serta kedua orangtuanya
Sempat terlintas dalam pikiran Nilam untuk memberitahu kepada Mama dan Papanya tentang apa yang dialami oleh Kak Nara. Namun mengingat Kakaknya sudah memebaik, pikiran itu ia buang jauh – jauh.
Tak terasa mereka bercandaan bersama, waktu sudah menunjuk pukul 8 malam lebih. Tak pernah luput, Papa selalu mengingatkan Nara dan Nilam untuk belajar.
Nara beranjak dari empuknya sofa didepan televisi untuk segera kembali ke kamarnya menuruti perintah Papanya. Saat itu pula Nara kembali merasakan hal yang sama persis ia rasakan disekolah tadi. Setelah beberapa detik Nara sudah tak sadar diri. Nilam meminta Mama Papanya untuk memanggilkan dokter ke rumah mereka.
Seorang dokter pribadi keluarga mereka datang, dan dengan cepat mengeluarkan perkakasnya. Sang dokter memeriksa Nara yang saat itu kondisinya Nampak parah.
Setelah melepas stetoskop dari kedua daun telinganya. Doker memvonis Nara kanker otak. Beruntunglah mereka tidak terlambat dalam memeriksakan penyakit ganasnya itu. Tak lupa dokter menganjurkan kepada orang tuanya agar Nara segera melakukan beberapa pengobatan. Pengobatan melalui jalan medis dan alternative.
Nilam seolah tidak percaya akan kata - kata dokter itu. Nilam menangis sambil memeluk tubuh Kakaknya yang masih lemas tak berdaya.
“Nilam..”
Nara memanggil adiknya untuk bertanya tentang penyakitnya. Karena memang sebetulnya Nara tidak mengetahui penyakit apa yang di deritanya. Nilam tidak menjawab pertanyaan kakaknya, Mama dan Papanya berpesan untuk tidak pernah membeitahu penyakitnya. Lantaran mereka takut Nara, anak kebanggaannya menjadi putus asa setelah mendengar kata seputaran penyakit yang Nara derita baru - baru ini.
Untaian rambut yang dulu lebat, kini tiap hari semakin menipis setiap kali disisir. Penglihatan normal menjadi samar – samar tak jelas. Badannya kian mengurus. Bergerak pun susah baginya sekarang. Namun ia tak pernah menyerah untuk menjalani cobaan dari Tuhan. Nara memang gadis yang kuat, ia tetap percaya bahwa keajaiban Tuhan pasti akan ia dapatkan suatu saat nanti.
Setiap minggunya Nara harus melaksanakan pengobatan alternative yaitu dengan menggunakn sarang semut. Karna mengandung senyawa – senyawa aktif sebulan sekali ia harus melaksanakan jadwal pengobatan medis dengan penyinaran.
Setelah tiga bulan lamanya, pengobatan selama itulah yang membuat orang tua Nara tidak dapat membiayai pengobatan Nara kedepannya. Karena memang semua pengobatan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Kedua orang tuanya hanya bisa menyemangati saja, tak seperti dua hari yang lalu saat mereka masih berlimpahkan harta. Kini mereka hanya bekerja serabutan di warung makan sederhananya. Sampai Nilam rela berjualan roti buatannya sendiri disekolahnya.
Nara merasa bersalah, namun Adiknya selalu berusaha untuk melupakan segala rasa bersalahnya. Dengan penuh rasa kasih sayang,
“Kak Nara, Nilam mau janji sama akak, Nilam akan senantiasa temenin kakak kapanpun yang kakak mau” katanya perhatian.
“Tapi kakak juga janji yaa.. kakak gak boleh kalah sama penyakit kakak, percaya deh keajaiban Tuhan akan Kak Nara dapat” tambahnya.
Beruntunglah rekan bisnis Mama dan Papa Nara menawarkan bantuan untuk operasi pengangkatan jaringan – jaringan otak yang terkena kanker otak. Tanpa berpikir panjang dan demi kesembuhan putri kesayangannya itu, mereka menyetujui operasi pengangkatan kanker otak Nara.
Tinggal menunggu beberapa menit lagi, operasi segera dijalankan. Keluarga besar mereka mendo’akan agar operasi sukses dan berjalan dengan baik. Nara yang tidak yakin bisa pulih dari penyakitnya, tiba – tiba teringat Nilam. Nara meminta Mamanya jika operasi telah selesai, Nara mengharapkan adiknya berada di sampingnya. Saat itu Nilam masih berada di sekolah untuk menjual kue – kue buatannya. Maka Mamanya hanya memberikan kabar kepada Nilam melalui pesan singkat diponselnya.
Waktu menunjuk pukul dua siang, Nilam bahagia, karna tak lama lagi ia dapat melihat kakaknya seperti dulu lagi. Nilam menaiki sepeda motornya sambil menenteng keranjang kue bawaannya, karna mobilnya sudah dijual untuk pengobatan kakaknya.
Betapa bahagianya Nilam, beberapa meter lagi ia sudah sampai di rumah sakit tempat Nara oprasi. Namun takdir berkata lain, sepeda motor yang ia tunggangi oleng ketika sebuah truk bermuatan banyak melintas dari arah yang berlawanan menghantamnya.
Sementara itu operasi Nara telah berjalan sukses, ia sudah sembuh dari kankernya. Ketika keluarganya mereka membawa keluar dari ruang oprasi, Nara melihat sosok Nilam yang dibawa ke ruang gawat darurat, dan ternyata itu memeang Nilam yang baru saja kecelakaan di dekat rumah sakit ini.
Rasa bersalah Nara pada adiknya kian meluak. Sempat ia berfikir semua kejadian ini karna penyakitnya itu. Tak sampai 10 menit, dokter keluar dan berkata bahwa dokter telah berusaha semaksimal mungkin. Dan itu artinya Nilam meninggal dunia.
Air mata Nara tak dapat terbendung lagi. Terlihat dari celah kecil dijendela ruang gawat darurat, tubuh Nilam yang masih tercecer darah telah terbujur kaku diranjang tempatnya diperiksa. Dan tak lupa suster menutupnya dengan selimut yang menandakan bahwa Nilam sudah benar – benar meninggal dunia.
Prosesi pemakaman telah berjalan pada hari itu juga, sampai proses terakhirnya disaat jenazah Nilam dikubur diliang lahat.
Semua keluarga dan teman – teman Nilam pun ikut bersedih dengan meninggalnya Nilam. Hal itu juga dirasakan oleh Nara, Ia harus mengikhlaskan adiknya dan semua kenangan saat bersamanya. Memang berat menjalaninya, tetapi ia teringat akan janji adiknya untuk senantiasa menemaninya kapan pun yang Nara inginkan.
Sampai suatu ketika, perkataan adiknya dulu benar – benar ditepati, meski ia sudah tak sealam lagi. Yaitu saat Nara berziarah kemakam adiknya, ia seolah berbicara dengan Nilam.
“Dek, kemana aja kamu, Kakak kangen sama kamu” sambutnya saat ia melihat adiknya didekat makam.
“Aku selalu disini Kak, Nilam juga kangen sama Kakak. Ingat Kak, kita udah gak se-alam lagi, tapi Nilam akan selalu tepatin janjiku ke Kakak dulu.. Kalau Kakak mau bertemu denganku lagi, jangan ragu untuk dating kesini Kak. Tentang ini cuma aku dan…..”
belum sampai selesai Nilam menjawab, ia sudah menghilang lagi. Tepat saat Mama dan Papanya datang.
Nara mengerti apa yang dimaksud dari ucapan Nilam, dengan hilangnya wujudnya ketika orang lain datang secara bersamaan dengan Nara. Yang jelas Nilam hanya ingin berdua dengan Nara saja.
Hampir setiap seminggu dua kali, Nara selalu berziarah ke makam Adiknya. Menabur bunga dan menghantarkan berbagai do’a agar Nilam tenang disisi Tuhan. Serta dengan maksud untuk bertemu Nilam, Adik tersayangnya.
Kini Nara sadar betapa besar rasa sayang Nilam padanya. Walaupun berbeda alam namun Nilam selalu ada untuk temani Kakaknya sesuai dengan janjinya.
Rolila Faradizah
Selasa, 20 Agustus 2013
Cerpen pertamaku~
Langganan:
Komentar (Atom)